PENCETUS HARI JUANG POLRI
Pemimpin BERKARAKTER memahami sejarah
1. Tanggal 22 Januari tahun 2024, keluar Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, dengan Nomor 95/I/2024, Tentang Hari Juang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Keputusan yang ditandatangani oleh Kapolri, Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., ini menetapkan bahwa hari bersejarah di Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diperingati setiap tanggal 21 Agustus, selanjutnya disebut sebagai Hari Juang Polri.
2. Tanggal 21 Agustus Tahun 2024, untuk pertama kalinya Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) akan merayakan hari bersejarah baru, yakni Hari Juang Polri.
3. Dipilihnya tanggal 21 Agustus sebagai Hari Juang Polri, berdasarkan pada peristiwa Proklamasi Polisi Republik Indonesia, yang dilakukan oleh Polisi Istimewa (sebelumnya bernama Tokubetsu Keisatsutai) di bawah pimpinan Inspektur Polisi Kelas 1 Moehammad Jasin.
4. Kutipan peristiwa Proklamasi Polisi Republik Indonesia.
5. Di bawah kibaran bendera merah putih, sekitar 250 orang anggota Kesatuan Polisi Istimewa berkumpul di halaman depan markas Polisi Istimewa (kini menjadi sekolah Saint Louis di Jalan Polisi Istimewa Surabaya Jawa Timur). Inspektur Polisi Kelas 1 M. Jasin tampil membacakan teks Proklamasi Polisi yang telah disiapkan.
6. Teks Proklamasi Polisi Republik Indonesia
7. “Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi Istimewa sebagai Polisi Repoeblik Indonesia.”
Soerabaja, 21 Agoestoes 1945
Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi
Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I
8. Inilah momentum pertama kalinya Polisi di negeri ini bersatu dengan nama Polisi Republik Indonesia. Polisi yang terlepas dari tugas yang diperalat oleh penjajah. Polisi yang mendukung penuh Kemerdekaan Republik ini. Polisi yang merdeka sepenuhnya dalam melindungi bangsa dan rakyat Indonesia.
9. Peristiwa tersebut merupakan titik balik dimulainya perjalanan sejarah Kepolisian Republik Indonesia. Kepolisian yang dibangun dari tekad dan semangat ke-Indonesiaan, setelah sebelumnya terkungkung dalam keterpaksaan mengamankan kepentingan-kepentingan penjajah (khususnya Jepang).
10. Momen proklamasi yang menyatukan tekad, semangat dan patriotisme Polisi Indonesia ini menjadi tonggak dimulainya perjalanan sejarah kaum Polisi pribumi. Polisi yang bertindak untuk dan atas nama bangsa Indonesia. Polisi yang menjadi tuan di negerinya sendiri. Polisi yang merdeka menentukan arah dan langkahnya bersama bangsa ini.
11. Perjalanan panjang menuju Hari Juang Polri, pertama kali dicetuskan oleh Komjen. Pol. Purnawirawan Drs. Arif Wachjunadi, tahun 2010 saat menjadi Kapolda Nusa Tenggara Barat. Sejak itu ia tertarik untuk mendalami sejarah Polri, khususnya terkait tanggal 21 Agustus, yang merupakan momentum penting dalam perjalanan Polri.
12. Saat menjadi Kapolda Bali, rasa penasaran terhadap sejarah ini terus mengusikn namun karena kesibukan belum sepenuhnya bisa mewujudkan keinginan untuk meneliti lebih jauh.
13. Selama menjadi Kapolda di dua wilayah ini, di beberapa kesempatan baik formil maupun nonformil, khususnya secara intern, ia kerap melemparkan pertanyaan terkait hal ini. “Rupanya, memang tidak banyak yang mengetahui dengan lengkap dari mana Polri bermula, termasuk kisah Proklamasi Polisi Republik Indonesia yang terjadi di tanggal 21 Agustus 1945 tersebut,” ungkap Arif Wachjunadi.
14. Hingga akhirnya saat menjadi Asops Kapolri di tahun 2013, ia merasa perlu mengungkap sejarah tersebut agar seluruh generasi Polri tidak putus dengan sejarah institusinya. Penelitian mendalam terkait Proklamasi Polisi Republik Indonesia tanggal 21 Agustus 1945 ini, mulai dilakukan.
15. Beberapa literatur yang pernah dipelajari, belum ada yang mengungkap secara rinci dan runut terkait sejarah Polri. Yang ada adalah catatan dokumen-dokumen yang terpotong hanya pada beberapa peristiwa saja, terkotak-kotak, tidak merangkai sejarah secara utuh. Ditambah lagi literasi mengenai sejarah Polri yang sangat sedikit, terutama sejarah di masa sebelum kemerdekaan. Padahal, masa inilah yang bisa menceritakan dari mana Polri bermula. Adapun beberapa buku terkait Polri, lebih banyak bicara tentang Polri masa setelah Kemerdekaan RI.
16. Ia menemukan metamorfosa Polri hingga menjadi salah satu institusi penting di negeri ini, dimulai dari Polisi Istimewa yang sebelumnya bernama Tokubetsu Keisatsutai, yang dibentuk Jepang pada tahun 1944.
17. Sepanjang 2010-2014, penelitain dilakukan untuk mengumpulkan bukti-bukti sejarah yang valid. Mulai dari penelitian literasi dan dokumen secara mendalam di Perpustakaan Nasional RI, Arsip Nasional RI dan Perpustakaan juga Monumen Kepolisian di Stukpa Sukabumi. Penelusuran berlanjut hingga ke Perpustakaan Nasional Tokyo serta NIDS (The National Institute for Defense Studies) Jepang. Selain itu penelitian juga menyasar ke National Showa Memorial Monumen (Showa Kan) di Jepang, Taman Hiroshima Peace Memorial Museum, Nagasaki Atomic Bomb Museum, Jepang hingga ke World War II Valor in The Pasific National Monument, Pearl Harbor di Oahu Honolulu (AS).
18. Penelitian lapangan kemudian menjelajah ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Tarakan Kalimantan Utara, beberapa daerah di Jawa Timur khususnya Surabaya, Sulawesi, Bantul Yogyakarta, Semarang, Purwokerto dan Banyumas, Jawa Tengah serta Jawa Barat khususnya Sukabumi. Juga ke Padang Sidempuan Sumatera Utara.
19. Wilayah-wilayah ini menyimpan begitu banyak dokumen dan kisah, menyisakan tokoh-tokoh penting serta tempat-tempat bersejarah bagi perjuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang diawali dengan peran penting Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsutai).
“Selama rentang 14 tahun ini, saya juga menjaring informasi-informasi penting serta masukan dari berbagai kalangan, seperti Kapolri dan Wakapolri di masanya, sejarawan hingga para akademisi termasuk pula dalam intern Kepolisian Negara Republik Indonesia,” kata Arif.
20. Semakin dalam penelitian yang lakukan, akhirnya tiba pada keyakinan bahwa ada tanggal penting dari perjuangan Polisi Istimewa yang layak diapresiasi oleh Polri sebagai hari bersejarah bagi Polri. Tanggal tersebut adalah tanggal 21 Agustus 1945, di mana pada momentum ini terjadi sebuah peristiwa yang menggetarkan dalam perjuangan penuh dedikasi bagi Polisi Istimewa.
21. 21 Agustus 1945, Polisi Istimewa yang sebelumnya bernama Tokubetsu Keisatsutai, dengan gagah berani penuh patriotik dan nasionalisme, mendeklarasikan diri sebagai aparat milik Negara Republik Indonesia dalam Proklamasi Polisi Republik Indonesia.
22. “Dan seluruh kisah perjuangan serta rentetan sejarah Proklamasi Polisi Republik Indonesia itu, akhirnya saya bukukan di tahun 2016, dengan judul; Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Kepolisian Negara RI (PHHN Polri),” ujarnya.
23. Tidak sampai di sini, rasa penasaran untuk mengungkap lebih jauh peristiwa sejarah yang terjadi tanggal 21 Agustus 1945 ini, membuatnya kembali melanjutkan penelitian yang kemudian memberikan banyak alasan, mengapa peristiwa tanggal 21 Agustus layak menjadi hari bersejarah bagi Polri.
24. Alasan-alasan ini tertuang lengkap dalam buku buku ke 2 yang diterbitkan tahun 2023, dengan judul Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Jejak Perjalanan Perjuangan Kepolisian Negara Republik Indonesia (PHHN JPP).
25. Dua buku yang terbit di tahun 2016 dan 2023 ini, penekanan dan rekomendasinya adalah bahwa tanggal 21 Agustus merupakan hari bersejarah bagi Polri yang layak diperingati sebagai Hari Juang Polri.
26. “Penekanan dan rekomendasi ini lahir setelah saya bertemu dengan banyak narasumber, terutama dari kalangan Polri, Kapolri dan Wakapolri di masanya,” ungkapnya.
27. Terbitnya 2 buku ini menjadi pendorong yang kuat bagi lahirnya Hari Juang Polri. Tidak kurang dari 46 peristiwa yang mendorong disahkannya hari bersejarah baru bagi Polri ini. Rentetan peristiwa yang terdokumentasi sejak tahun 2013, menggambarkan proses dan dinamika soliditas Polri menuju penetapan hari bersejarah itu sampai resmi bernama Hari Juang Polri. Selain penelitian (literasi dan lapangan), juga dilakukan seminar, saresehan, kunjungan dan pertemuan dengan para Tokoh baik dalam institusi maupun di luar Polri, ahli sejarah hingga akademisi.
28. “46 peristiwa ini terdokumentasi dalam buku ke 3 berjudul, Hari Juang Polri,” ungkap Arif.
29. Dukungan penting menuju lahirnya Hari Juang Polri ini, datang dari para tokoh penting yang ditemui Komjen. Pol. Arif Wachjunadi selama penelitian berlangsung. Beberapa di antaranya adalah Jenderal TNI Purnawirawan Try Sutrisno, Ketua Umum MPR RI, Ketua Umum IMI Dr. H. Bambang Soesatyo SE., MM., Kapolri-kapolri pada masanya, mulai dari Jenderal Polisi (Purn) Prof. Awaloedin Djamin (tahun 2013), Jenderal Polisi (Purn) Roesdihardjo, Jenderal Polisi (Purn) Da’i Bachtiar, Jenderal Polisi (Purn) Roesmanhadi, Jenderal Polisi (Purn) Soeroyo Bimantoro, Jenderal Polisi (Purn) Timur Pradopo, Jenderal Polisi Drs. Badrodin Haiti dan berbagai peristiwa lainnya.
30. Deretan sumber dan narasumber dalam penelitain Komjen. Pol. Arif Wachjunadi: Jenderal TNI Try Sutrisno, Wakil Presiden RI ke 6 – Panglima ABRI ke 9 dan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., Ketua MPR RI, Dr. H. Bambang Soesatyo, SE., M.B.A., serta Jenderal Polisi (Purn) Prof. Dr. Budi Gunawan, S.H., M.Si., Ph.D., Wakapolri 2016 – Kepala Badan Intelejen Negara 2016 -2023. Para Kapolri di masanya; Jenderal Polisi (P) Prof. Awaluddin Djamin Kapolri ke 8, Jenderal Polisi (P) Roesmanhadi Kapolri ke 14, Jenderal Polisi (P) Drs. Kanjeng Pangeran Hario Rusdihardjo, Kapolri ke 15, Jenderal Polisi (P) Drs. R. Suroyo Bimantoro Kapolri ke 16, Jenderal Polisi (P) Da’i Bachtiar, P.S.M., A.O., Kapolri ke 17, Jenderal Polisi (P) H. Bambang Hendarso Danuri Kapolri ke 19, Jenderal Polisi (P) Timur Pradopo Kapolri ke 20, Jenderal Polisi (P) Badrodin Haiti, Kapolri ke 22 dan Jenderal Polisi (Purn.) Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., Kapolri ke 23. Jenderal Polisi Purnawirawan Drs. Chaeruddin Ismail.
31. Sejarawan dan para akademisi Indonesia, yang memberi dukungan dalam penelitian tersebut, Dr. H. Anhar Gonggong, M.A., (Sejarawan), Prof. Dr. Aminuddin, MS., Guru Besar Unesa Indonesia, Prof. Muradi, M.A., Ph.D., Guru Besar Ilmu Politik & Keamanan dan Direktur Program Pasca Sarjana Ilmu Politik (Magister & Doktoral) di Universitas Padjajaran (UNPAD) 2016-2021, Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri, Sosiolog dan Rektor Universitas Indonesia 2007, Dr. Abdul Wahid M.Hum., M.Phil , Ahli sejarah Universitas Gadjah Mada, Andy F. Noya, Wartawan Senior. Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya dan Makasar.
32. Para pejuang, veteran Polisi Istimewa dan Mobrig di Surabaya dan Makasar; Kapten Polisi (P) Moekari, saksi hidup pasukan Tokubetsu Keisatsutai, Letkol Polisi (P) Kariman, mantan Marinir Angkatan Laut yang bergabung dengan Mobile Brigade (Mobrig), Kolonel Polisi (P) Darundono, Mobrig daerah Jawa Timur, Kapten Polisi (P) Soedjono, Pengawal M. Jasin, Peltu Polisi (P) S. Soemardji, Tentara PETA Blitar yang bergabung dengan Mobrig tahun 1946.
33. Dengan keluarnya Skep Kapolri Nomor 95/I/2024, kini Polri resmi memiliki hari bersejarah baru (selain Hari Bhayangkara yang diperingati setiap tanggal 1 Juli), yakni Hari Juang Polri yang diperingati setiap tanggal 21 Agustus.
Pointer Sambutan dalam buku berjudul: Pearl Harbor Hiroshima Nagasaki Jejak Perjalanan Perjuangan Polri
1. Jenderal TNI Purnawirawan Try Sutrisno
Kerja keras dalam mewujudkan buku ini, tentu saja tidak mudah dilakukan oleh Komjen. Pol. Purnawirawan Arif Wachjunadi, untuk melakukan berbagai penelitian mendalam demi menghadirkan dua jilid buku yang mencatat mengenai sejarah Kepolisian Republik Indonesia. Jilid I terbit pada tahun 2016 dan jilid 2 terbit tahun 2023. Tak terhitung waktu dan tenaga, tentunya dengan kesabaran dan keikhlasannya secara terus menerus untuk bisa mewujudkan buku yang bisa menjadi pedoman tidak hanya bagi Polri melainkan juga bagi masyarakat luas, khususnya terkait sejarah Polri.
Oleh sebab itu, Polri patut berbangga dan harus merasa beruntung memiliki Komjen. Pol. Arif Wachjunadi, yang telah dengan tekun menyusun buku bernuansa sejarah dengan rapi dan runut ini. Apreasiasi saya sampaikan kepada penulis, yang tidak hanya karena keseriusannya dalam melahirkan buku ini, melainkan detilisasinya dalam menggambarkan jejak sejarah hadirnya Polisi di negeri ini, yang dimulai dengan mengisahkan pergolakan Perang Pasifik yang menjadi trigger bagi Pasukan Jepang menjejakkan kaki di bumi nusantara pada 10 Januari 1942. Kemudian dari sinilah cikal bakal dibentuknya Polisi secara institusional dari kalangan pribumi. Yang selanjutnya berproses hingga lahir Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) yang memproklamirkan diri sebagai Polisi Republik Indonesia pada tanggal 21 Agustus 1945. Momentum ini haruslah menjadi catatan penting bagi sejarah Bangsa Indonesia, sehingga layak dikenang dan diabadikan. Dengan sebab penelitian tentang peristiwa Proklamasi Polisi Republik Indonesia yang dituangkan dalam buku ini mendalam dan komprehensif, maka saya sepakat jika tanggal bersejarah tersebut, 21 Agustus menjadi Hari Juang Polri yang kelak akan diperingati oleh Polri setiap tahunnya.
2. Kapolri Jenderal Sigit Prabowo: Buku ini memberikan gambaran terkait sejarah perkembangan Kepolisian di Indonesia dengan berlandaskan teori komprehensif diiringi dengan riset pustaka dan studi lapangan sehingga mampu menyajikan informasi yang utuh disertai penjelasan dan analisa terperinci. Semoga buku ini dapat menjadi sumber bacaan yang edukatif bagi seluruh personel Polri dan masyarakat dalam membuka cakrawala tentang sejarah Polri.
3. Ketua MPR RI, DR. H. Bambang Soesatyo, S.E., M.B.A
Selaku pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), saya menaruh harapan besar agar buku ini bisa menjadi bacaan wajib bagi anggota Polri, terutama untuk anggota Polri dan calon-calon pimpinan Polri masa depan yang tengah menjalani pendidikan di berbagai tingkat pendidikan maupun pelatihan Polri, agar seluruh anggota Polri dan calon pemimpin Polri masa depan faham tentang Sejarah Polri. Faham dari mana mereka berasal. Dan Faham bagaimana menghargai sejarahnya. Sebab buku ini menyajikan hal tersebut dengan lengkap.
4. Jenderal Polisi Suroyo Bimantoro
“Menurut saya, Komjen. Pol. (P) Arif Wachjunadi adalah seorang yang langka, di tengah kelangkaan pecinta sejarah, khususnya pada sejarah institusi Polri yang dia dan kami cintai. Kelebihan dia dari yang lain, dia bukan hanya memiliki minat tetapi mendalami, meneliti dan lebih hebat lagi menuliskan dalam sebuah buku. Karya Arif Wachjunadi melalui penelitian mendalam dan komprehensif, menerangkan dalam buku ini. Membaca buku ini, ingatan dan perasaan kita terbawa pada kesadaran akan pengorbanan dan perjuangan para pahlawan bangsa dan para pemimpin kita saat itu dalam menegakkan, menjaga NKRI”.
5. Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri
“Saya memberi apresiasi kepada penulis yang penuh semangat melakukan penelitian yang tidak mudah ini, demi merangkai benang merah jejak sejarah perjuangan Polri yang terangkum dalam buku ini. Buku ini begitu berharga bukan hanya bagi Polri, melainkan juga masyarakat luas. Polri beruntung memiliki Komjen. Pol. Arif Wachjunadi, yang telah banyak menghabiskan waktu berfikir dan berbuat bagi institusi Polri, sejak aktif bahkan hingga purnatugasnya. Salah satunya menghadirkan buku yang bermanfaat ini, khususnya bagi generasi-generasi Polri mendatang, agar mereka tahu asal usulnya. Saya ucapkan terima kasih dan selamat kepada Penulis atas karya yang memperkaya literasi Kepolisian RI. Harapan saya, Komjen. Pol. Arif Wacjunadi, untuk terus menulis bagi Polri dan juga bagi Bangsa dan Negara dengan karya-karya bermanfaat lainnya.”
